kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45729,74   -6,98   -0.95%
  • EMAS963.000 3,44%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Wiranto maafkanlah, Rismaharini jaga persatuan, Fadli Zon pindah ke Kertajati


Rabu, 21 Agustus 2019 / 08:00 WIB
Wiranto maafkanlah, Rismaharini jaga persatuan, Fadli Zon pindah ke Kertajati
ILUSTRASI.

Sumber: Kompas.com | Editor: Tri Adi

KONTAN.CO.ID -  NEWSMAKERS.  Selama Senin (19/8) dan Selasa (20/8) media kita dipenuhi oleh berita kerusuhan Maknokwari, Papua.  Tentu saja ini wilayah kerja Wiranto sebagai Menko Polhukam. Itulah yang membuat Wiranto juga menjadi sosok yang selalu muncul di media. Namun, juga ada sosok lain, yaitu Tri Rismaharini yang dilantik sebagai Ketua DPP PDI-P Bidang Kebudayaan. Tak ketinggalan Fadli Zon yang turut  mengomentari rusuh Papua dan pemindahan ibu kota. Inilah sosok yang membuat kita tak bisa berpaling.

Wiranto, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan

Menanggapi  aksi unjuk rasa di Manokwari, papua, yang berujung rusuh,  Wiranto menginstruksikan untuk dilakukan pengusutan secara adil dan tuntas.  

"Telah diinstruksikan untuk melakukan pengusutan secara tuntas dan adil bagi siapa pun yang dianggap melakukan pelanggaran hukum dalam peristiwa ini," ujar Wiranto.

Wiranto menegaskan, penindakan tegas akan dilakukan aparat hukum kepada pihak-pihak yang sengaja memanfaatkan peristiwa ini untuk kepentingan negatif. "Dan juga akan kita usut secara tuntas dan adil, siapapun yang memanfaatkan insiden ini untuk kepentingan-kepentingan yang negatif," lanjut Wiranto.  

Selain itu, Wiranto juga mengatakan bahwa pemerintah memberikan jaminan keamanan di seluruh wilayah Indonesia. "Pemerintah memberikan jaminan sepenuhnya untuk terpeliharanya stabilitas keamanan di seluruh wilayah Indonesia," ujar Wiranto usai rapat koordinasi dengan beberapa lembaga terkait seperti Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) tentang masalah keamanan nasional di Kantor Kemenko Polhukam, Senin (19/8)

Pada akhirnya, Wiranto meminta semua pihak sabar dan saling memaafkan. "Sabar, saling memaafkan, jaga ketenangan, jaga kedamaian, rawat persatuan. Itu saja," kata Wiranto Wiranto di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Selasa (20/8)

Pemicu kejadian itu  disinyalir karena mahasiswa Papua enggan mengibarkan bendera merah putih di halaman asrama pada tanggal 17 Agustus. Massa ormas kemudian melempari asrama mahasiswa dengan batu sembari mengeluarkan kalimat bernada rasis terhadap mahasiswa Papua yang berada di asrama tersebut.

Viralnya sebuah video di media sosial yang menampilkan situasi ketika mahasiswa asal Papua di asrama Surabaya didatangi sekelompok ormas, personel Polri, dan TNI. Mereka yang datang, menyerukan kalimat-kalimat rasisme kepada para mahasiswa Papua yang berada di sana sembari meminta mereka keluar dari area asrama.

Polri menyebut bahwa viralnya media sosial itulah yang membuat warga di Papua dan Papua Barat marah dan turun ke jalan melakukan aksi pada Senin (19/8/2019) yang berujung kerusuhan.

Berita ini kerusuhan Manokwari begitu menyita halaman media, sejak Senin (19/8) dan Selasa (20/8).

Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya

Tri Rismaharini mencium tangan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. Momen tersebut terjadi beberapa saat setelah Risma dilantik menjadi Ketua DPP PDI-P Bidang Kebudayaan di Kantor DPP PDI-P, Senin (19/8).

Rismaharini mengaku senang saat tahu ditunjuk menduduki jabatan itu. "Saya senang sekali terus terang, saya membayangkan budaya ini bukan sekadar kesenian, bukan sekadar apa, tetapi saya membayangkan saya bisa merakit persaudaraan anak bangsa," kata Risma. Wali Kota Surabaya itu menuturkan, persaudaraan merupakan hal penting.

"Kalau kita bersaudara, kita tidak perlu takut. Kita tidak tahu suatu saat berada di mana, anak saya berada di mana, tetapi kalau kemudian kita bersaudara, kita tidak perlu takut, kita ada di mana pun," ujar Risma.

Perihal peristiwa pengepungan asrama mahasiswa asal Papua di Surabaya oleh massa organisasi masyarakat. Risma memastikan tidak ada niat mengusir para mahasiswa asal Papua dalam peristiwa tersebut. "Kalau memang itu ada kesalahan di kami di Surabaya, saya mohon maaf tapi tidak benar kalau kami dengan sengaja mengusir, enggak ada itu," kata Risma.

Secara pribadi, Risma juga menganggap warga Papua sebagai saudara sendiri. Oleh sebab itu, ia memastikan bahwa tidak ada peristiwa pengusiran warga Papua dari Surabaya. "Sekali lagi boleh dicek selama ini kami selalu di kegiatan apapun melibatkan mahasiswa papua yang ada di Surabaya, jadi enggak ada itu (pengusiran)," ujar Risma.
 
Risma mengingatkan bahwa latar belakang suku seseorang serta karakteristik fisiknya merupakan takdir Tuhan. "Kalau orangtua saya Papua, mama saya Papua, papa saya Papua, kira-kira Risma itu akan menjadi apa? Pasti saya juga akan jadi orang Papua. Ya seperti kejadiannya orang Papua, itulah takdir yang diciptakan Tuhan," kata Risma. Ia pun meminta warga Surabaya untuk tidak menunjukkan sikap merendahkan orang lain berdasarkan suku bangsanya.

Fadli Zon, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra

Mengenai rencana pemindahan ibu kota ke Kalimantan. "Yang penting apakah urgensinya, waktunya kapan, dan di mana tempatnya. Saya kira itu yang perlu dilakukan pengkajian yang mendalam," kata Fadli Zon saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (19/8).

Menurut Fadli, dalam pemindahan ibu kota, Indonesia bisa belajar dari Malaysia yang memindahkan ibu kota negara tak jauh dari ibu kota sebelumnya. Oleh sebab itu, ia mengusulkan pemindahan ibu kota negara tidak jauh dari Jakarta, yaitu ke wilayah yang sangat memungkinkan dari segi sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur.

Ia menyarankan pemindahan ibu kota negara ke wilayah Jonggol di Kabupaten Bogor atau Kertajati di Kabupaten Majalengka. "Misalnya ke wilayah yang dekat seperti di Jonggol atau mungkin di Kertajati begitu ya," ujar Fadli Zon. "Itu sangat memungkinkan secara kalkulasi dan SDM. Sumber daya dan infrastruktur sebagainya," kata dia.

Perihal kerusuhan Papua, Fadli  meminta kepolisian mengusut pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam insiden pengepungan Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya. "Tentu kita berharap ada ketenangan, ada cooling down dan ada pengusutan terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab," ujar Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/8).
"Mungkin perlu ada investigasi terhadap dugaan-dugaan, mungkin dianggap pelecehan terhadap bendera Merah Putih kita atau juga yang melakukan ucapan yang rasis," kata Fadli.




TERBARU

Close [X]
×