kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Airlangga pede dengan 92 persen, Yorrys Raweyai menantang


Senin, 26 Agustus 2019 / 08:41 WIB
Airlangga pede dengan 92 persen, Yorrys Raweyai menantang
ILUSTRASI. Mendag melihat stand pameran komponen dalam negeri

Sumber: Kompas.com | Editor: Tri Adi

KONTAN.CO.ID - NEWSMAKERS. Pelaksanaan Munas Golkar masih Desember 2019 nanti, namun hawa kontestasi untuk menduduki ketua umum sudah terasa. Ya, itulah yang terjadi akhir pekan kemarin. Kompetisi itu melahirkan tokoh-tokoh yang  menjadi berita karena komentarnya. Airlangga Hartarto, sang ketua umum, dan Yorrys Raweyai, politisi Golkar saling melempar komentar. Inilah dua tokoh yang membuat kita tidak bisa berpaling.

Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Golkar

Menjelang Musyawarah Nasional Golkar,  Airlangga Hartarto menyebut, dukungan terhadap dirinya agar menjadi ketua umum periode 2019-2024 sudah mencapai 92 persen. Untuk itu Airlangga meminta anak muda Golkar mengawalnya.   

"Arahan untuk generasi milenial adalah untuk bekerja sampai ke Munas. Tugas sahabat muda itu mengawal suara, hari ini sudah 92 persen, jadi dikawal seluruhnya, mana yang solid, mana yang gampang tergoda, mana yang ingin menggoda, nah ini kita harus jaga sampai ke Munas," kata Airlangga saat menghadiri Deklarasi Sahabat Muda Airlangga Hartarto (SMART) di Hotel Four Seasons, Jakarta Selatan, Sabtu (24/8)

Selain itu, Airlangga juga menekankan bahwa konsistensi menjaga suara adalah yang terpenting untuk pemenangannya di Munas Golkar 2019. "Deklarasi dari generasi milenial ini tentu diapresiasi dan menjadi bagian daripada angkatan muda anak-anak Golkar di seluruh Indonesia. Tentu, dukungan akan terus masuk dan harus terus dijaga sampai Munas nanti," lanjut dia.  

Airlangga juga meminta para pendukungnya fokus mengonsolidasikan suara hingga pelaksanaan pemilihan ketua umum baru di Musyawarah Nasional Partai Golkar, Desember 2019 mendatang. "Kita konsolidasikan dalam dua bulan ke depan, jangan sampai kecolongan. Yang jadi tugas kita adalah konsistensi menjaga suara kita," ujar Airlangga. 

Yoris Yorrys Raweyai, Politisi Partai Golkar 

Perihal kepedean Airlangga Hartarto akan menduduki Ketua Umum Golkar,  Yorrys Raweyai mendorong Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto segera menggelar musyawarah nasional. 

"Kalau dia percaya diri tinggi, kenapa enggak bikin saja? Kalau yakin menang, yuk langsung Munas. Jadi buying time terhadap keputusan-keputusan ini kan makin hari makin besar dan tentu bisa menyulitkan beliau," kata Yorrys saat ditemui di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (24/8).  

Selain itu,  Yorrys  menilai, Airlangga Hartarto adalah ketua umum terburuk sepanjang ia berada di Partai Golkar. "Pengalaman saya dalam organisasi dan hidup saya dalam berpolitik hanya di Partai Golkar, tak ada partai lain, bahwa kepemimpinan sekarang ini menurut saya terjelek daripada kepemimpinan partai sebelumnya," kata Yorrys.

Alasannya, Airlangga dinilai tidak pernah melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam organisasi partai berlambang pohon beringin itu. Baik AD/ART, tata tertib, maupun peraturan turunannya. Yorrys menyebutkan salah satu yang disebutnya sebagai 'dosa' Airlangga, yakni belum pernah sekalipun mengadakan rapat pleno partai. 

Pernyataan ini langsung dibantah Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily. "Jika ada penilaian dari Bang Yorrys seperti itu, saya kira terlalu berlebihan," kata Ace kepada Kompas.com, Minggu (25/8). Ace menganggap kritikan Yorrys itu tidak benar. Ia menduga Yorrys mengatakan hal seperti itu lantaran tidak terlibat secara langsung dalam kepengurusan DPP Golkar.

Adapun perihal rusuh Papua, Yorrys yang juga anggota DPD RI terpilih dari provinsi Papua mengatakan semestinya  diselesaikan melalui pendekatan budaya. "Saya pikir, solusi terbaik dari permasalahan itu pendekatannya harus melalui antropologi dan budaya," kata Yorrys dalam diskusi bertajuk "Bagaimana Sebaiknya Mengurus Papua?" di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (24/8).  

Mengenai pemblokiran internet, Yorrys mengatakan, pemblokiran internet di Papua dan Papua Barat bukan solusi atas konflik yang sedang terjadi di sana. Ia berpendapat, polisi seharusnya justru menyelesaikan kasus persekusi rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya yang dinilai menjadi pemicu menyebarnya aksi unjuk rasa di sejumlah wilayah di Papua. ♦





Close [X]
×