kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45729,74   -6,98   -0.95%
  • EMAS963.000 3,44%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

5 Newsmaker: Dari Prabowo hingga Kapitra Ampera


Sabtu, 21 Juli 2018 / 09:45 WIB
5 Newsmaker: Dari Prabowo hingga Kapitra Ampera

Reporter: Tri Adi | Editor: Tri Adi

Tito Karnavian, Kepala Polisi RI

Tito Karnavian membantah ucapan Bachtiar Nasir yang menyebut dirinya mendukung sistem pemerintahan khilafah. Menurut Tito, Bachtiar salah mengartikan ucapannya itu. Video ucapan Bachtiar tersebut diunggah ke dunia maya, kemudian viral.  Di dalam video tersebut, kata Tito, Bachtiar menyebut bahwa dirinya menyatakan sistem demokrasi saat ini sudah rusak. Sehingga, sistem khilafah dirasa paling pas untuk Indonesia lantaran demokrasi liberal dianggap tak benar. "Saya berdiskusi dengan orang yang berkompeten itu, yaitu Kapolri Prof Dr Tito Karnavian. Dia mengatakan demokrasi ini sudah rusak. Oleh karena itu, harus diganti sistem khilafah," sebut Tito, menirukan ucapan Bachtiar. Berkaitan dengan video tersebut, Tito langsung mengirim pesan singkat kepada Bachtiar. Tito mengatakan kepada Bachtiar bahwa selama ini dirinya menganggap Bachtiar orang cerdas, namun kemudian kesan itu hilang. "Saya langsung (kirim pesan) WhatsApp ke yang bersangkutan. 'Ustad itu saya anggap orang yang cerdas, negarawan. Tapi begitu saya melihat kata-kata ustad di situ (video), hilang kesan saya. Ternyata ustad tidak secerdas yang saya lihat'," kata Tito di Jakarta, Selasa (17/7). Tito menegaskan, dirinya tidak pernah mendukung ideologi khilafah. Bahkan, ia dengan tegas memandang ideologi khilafah berbahaya. "Yang saya sampaikan demokrasi liberal saat ini kalau kebablasan bisa menjadi pemecah bangsa ini, tapi saya tidak mengatakan ganti (dengan sistem) khilafah. Tidak sama sekali," sebut Tito.




TERBARU

Close [X]
×